Merdeka Belajar: Apa yang Harus Dilakukan Dosen?


Oleh: Tim Ruang Dosen

Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) telah menjadi angin segar sekaligus tantangan besar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Bagi kita para dosen, ini bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan pergeseran paradigma yang mendasar tentang bagaimana kita menjalankan profesi. Jika dulu kita terbiasa berdiri di depan kelas sebagai sumber utama pengetahuan, kini kita dituntut menjadi fasilitator, pembimbing, dan kolaborator yang membuka jalan bagi mahasiswa untuk belajar dari berbagai pengalaman di luar tembok kampus.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang harus kita lakukan? Mari kita bedah tuntas.

Memahami Esensi MBKM: Kurikulum Berbasis Capaian

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami bahwa MBKM bukanlah sekadar program tambahan, melainkan kelanjutan dari penerapan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Perubahannya terletak pada pendekatan: dari kurikulum berbasis konten yang kaku menjadi kurikulum berbasis capaian pembelajaran yang adaptif dan fleksibel .

Artinya, kita tidak lagi bertanya "materi apa yang harus saya ajarkan?", tetapi "kompetensi apa yang harus dicapai mahasiswa saya, dan bagaimana cara terbaik untuk mencapainya?". Ini adalah perubahan mindset yang fundamental. Program studi ditantang untuk mengembangkan kurikulum yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan tujuan menghasilkan lulusan sesuai capaian pembelajaran yang telah ditentukan .

Bagi dosen, implementasinya dimulai dari penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang tidak hanya berisi daftar topik kuliah, tetapi juga mencerminkan capaian pembelajaran yang terukur dan relevan dengan kebutuhan dunia nyata. Setiap kompetensi dalam capaian pembelajaran program studi perlu diturunkan menjadi capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK), yang kemudian dituangkan dalam RPS yang operasional .

Peran Baru Dosen: Dari Pengajar Menjadi Pembimbing

Salah satu perubahan paling signifikan adalah peran dosen yang bergeser. Dalam konsep Merdeka Belajar, dosen tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu. Mahasiswa diberi kebebasan untuk belajar di luar program studi, bahkan di luar kampus, melalui berbagai bentuk kegiatan yang diakui setara dengan perkuliahan .

Ada delapan bentuk kegiatan pembelajaran (BKP) yang disediakan dalam program MBKM: (1) pertukaran pelajar, (2) magang atau praktik kerja, (3) asistensi mengajar, (4) penelitian/riset, (5) proyek kemanusiaan, (6) kegiatan wirausaha, (7) proyek independen, dan (8) Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) atau membangun desa .

Di sinilah peran kita sebagai dosen menjadi krusial. Kita bukan lagi sekadar pengajar, tetapi pembimbing yang membantu mahasiswa merencanakan, menjalankan, dan merefleksikan pengalaman belajar mereka di luar kelas. Dosen bertanggung jawab memastikan bahwa kegiatan yang diikuti mahasiswa benar-benar berkontribusi pada capaian pembelajaran yang dijanjikan program studi .

Hasil penelitian di Universitas Esa Unggul menunjukkan bahwa sebagian besar dosen (83,3%) yang pernah membimbing magang dan KKN sebelum ada MBKM merasakan peningkatan soft skill dan hard skill mahasiswa, serta peningkatan kompetensi atau kapasitas diri mereka sendiri . Ini menunjukkan bahwa peran pembimbing bukan hanya menguntungkan mahasiswa, tetapi juga menjadi wahana pengembangan profesional bagi dosen.

Menjadi Dosen Merdeka yang Inovatif

Konsep "Dosen Merdeka" muncul sebagai respons atas tuntutan perubahan ini. Dosen merdeka adalah dosen peradaban yang kreatif, inovatif, dan progresif . Mereka adalah agen perubahan yang memastikan kebaikan dan kebermanfaatan terus berlangsung melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat .

Karakteristik dosen Merdeka Belajar setidaknya mencakup empat hal :

1. Inovator Pedagogis Berbasis Teknologi

Di era digital, dosen dituntut untuk merancang pembelajaran yang inovatif dengan melibatkan teknologi. Ini bukan sekadar menggunakan platform daring, tetapi menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, kontekstual, dan berpusat pada mahasiswa. Kombinasi metode blended learning—kelas tatap muka, webinar, diskusi virtual, hingga simulasi—menjadi kebutuhan, bukan pilihan .

Kemampuan pedagogis yang melibatkan inovasi dan teknologi dapat menghasilkan gagasan kreatif dan menyediakan sumber belajar yang luas . Dosen perlu menguasai literasi data, teknologi, dan literasi manusia—tiga hal yang menjadi titik berat dalam proses digitalisasi pendidikan .

2. Profesional Berorientasi Kolaborasi

Ruang lingkup profesionalitas dosen dalam konsep MBKM tidak lagi terbatas pada kegiatan individual. Dosen dituntut untuk bersikap kolaboratif melalui pengembangan keilmuan, penelitian, pengabdian, dan terutama dalam merajut ekosistem bersama pentahelix: Academic, Business, Community, Government, dan Media .

Kolaborasi dengan mitra strategis—perusahaan, yayasan, organisasi multilateral, institusi pemerintah—menjadi keniscayaan untuk mendukung program magang, penelitian, dan berbagai bentuk kegiatan MBKM lainnya .

3. Pembelajar Terus Menerus

Perubahan yang begitu cepat menuntut dosen untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Tidak ada kata "selesai" dalam pengembangan kompetensi. Dosen harus menjadi contoh bagi mahasiswa tentang pentingnya pembelajaran sepanjang hayat .

4. Pembimbing yang Reflektif

Dosen tidak hanya membimbing, tetapi juga mampu merefleksikan praktik pembelajarannya sendiri. Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap mahasiswa, tetapi juga terhadap metode dan pendekatan yang kita gunakan. Kemampuan refleksi inilah yang memungkinkan perbaikan berkelanjutan .

Mengatasi Tantangan Implementasi

Tidak bisa dipungkiri, implementasi MBKM menghadapi berbagai tantangan. Data dari LLDikti Wilayah VII menunjukkan bahwa dari 307 perguruan tinggi di bawah naungan mereka, baru 84 yang melaporkan telah melaksanakan MBKM Mandiri . Meskipun angka sebenarnya mungkin lebih besar, ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Tantangan terbesar terletak pada kemampuan dosen dalam merancang pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi industri, serta keterbatasan platform digital untuk mendukung aktivitas pembelajaran lintas kampus . Selain itu, kebijakan Merdeka Belajar yang semestinya membuka ruang kreativitas sering kali tidak dibarengi dengan kebijakan afirmatif terhadap dosen . Dosen dipaksa berinovasi tanpa dukungan anggaran, sumber daya, atau insentif yang memadai .

Namun, LLDikti terus mendorong perguruan tinggi untuk menggali kekhasan dan kekuatan masing-masing dalam melaksanakan MBKM Mandiri. Contoh sukses datang dari Universitas Nurul Jadid di Probolinggo yang menggelar program "Santri Mengabdi" dan "Santri Internasional" sesuai kekhasan kampus pesantrennya . Ini membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi dapat muncul dari mana saja, asalkan ada komitmen dan dukungan yang memadai.

Sinergi dengan Tenaga Kependidikan

Keberhasilan MBKM tidak hanya bergantung pada dosen, tetapi juga pada tenaga kependidikan yang berperan sebagai penunjang layanan administrasi . Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa tenaga kependidikan masih belum sepenuhnya memahami pelaksanaan MBKM . Ini menjadi catatan penting bagi kita semua: transformasi pendidikan harus melibatkan seluruh ekosistem kampus, bukan hanya dosen dan mahasiswa.

Kesimpulan: Langkah Nyata yang Harus Dilakukan

Apa yang harus dilakukan dosen dalam menghadapi era Merdeka Belajar?

1.    Ubah Mindset: Tinggalkan pendekatan pengajaran satu arah. Jadilah fasilitator yang membantu mahasiswa menemukan jalur belajarnya sendiri.

2.    Perbaharui Kurikulum: Pastikan setiap mata kuliah memiliki RPS yang berbasis capaian pembelajaran dan terintegrasi dengan program MBKM.

3.    Bangun Kolaborasi: Jalin kemitraan dengan industri, pemerintah, dan masyarakat untuk membuka peluang belajar mahasiswa di luar kampus.

4.    Kembangkan Kompetensi Digital: Kuasai teknologi pembelajaran dan literasi digital agar mampu menciptakan pengalaman belajar yang inovatif.

5.    Libatkan Diri dalam Program MBKM: Ikut aktif dalam membimbing dan mendampingi mahasiswa yang mengikuti program magang, penelitian, atau kegiatan MBKM lainnya.

6.    Refleksikan Praktik: Evaluasi secara berkala metode dan pendekatan pembelajaran, dan lakukan perbaikan berkelanjutan.

MBKM adalah panggilan bagi kita untuk keluar dari zona nyaman dan menjadikan pendidikan tinggi sebagai ruang yang lebih bermakna, relevan, dan berdampak. Seperti yang sering dikatakan, "Dosen Merdeka adalah Dosen Peradaban" —kitalah yang melukis masa depan bangsa melalui tinta pemikiran dan dedikasi kita.

 

 

Entri yang Diunggulkan

Merdeka Belajar: Apa yang Harus Dilakukan Dosen?

Oleh: Tim Ruang Dosen Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) telah menjadi angin segar sekaligus tantangan besar bagi dunia pen...