Universitas Masa Depan: Lebih Fleksibel dan Terbuka (Banget!)
Oleh: Si Mantan Mahasiswa yang Pernah Ngurus KRS Sampe Subuh
Sekarang, coba lo tutup mata sejenak. Bayangin lo punya mesin waktu.
Lo naik ke mesin itu, putar tombol ke tahun 1995. Lo samperin seorang mahasiswa yang lagi ngantri di loket pembayaran UKT. "Bang," kata lo, "30 tahun lagi, kuliah itu bisa dari rumah. Lo gak perlu ngantre kayak gini. Bahkan lo bisa ambil mata kuliah dari universitas di Australia tanpa pake visa."
Si mahasiswa 1995 bakal ngedelokin lo kayak orang gila terus ngejar lo pake sapu. Sulit dipercaya, kan?
Nah, sekarang coba lo bayangin 10-15 tahun ke depan. Universitas bakal berubah jauh lebih drastis lagi. Bukan cuma dari manual ke digital, tapi dari kaku ke fleksibel, dari tertutup ke terbuka, dari elitis ke inklusif.
Gue mau ajak lo ngobrol tentang Universitas Masa Depan. Bukan yang kayak di film-film fiksi ilmiah dengan gedung kaca terbang. Tapi perubahan nyata yang udah mulai terjadi dan bakal makin masif. Perubahan yang bakal bikin lo—sebagai mahasiswa atau calon mahasiswa—punya kekuasaan luar biasa atas pendidikan lo sendiri.
Tapi tentu, ada harga yang harus dibayar. Ada tantangan yang bikin gelisah. Dan ada pertanyaan: Siap atau enggak, kita bakal masuk ke sana?
Siapin cemilan. Mulai.
Bagian 1: Universitas Klasik Itu Kayak Penjara (Secara Halus)
Sebelom kita bahas masa depan, kita perlu jujur tentang masa sekarang (dan masa lalu). Universitas tradisional—yang umurnya sudah ratusan tahun—punya beberapa "penyakit bawaan" yang bikin banyak orang frustrasi.
1. Kurikulum yang Kaku
Bayangin lo masuk kuliah di umur 18 tahun. Lo harus milih jurusan. Padahal di umur segitu, banyak orang masih bingung mau jadi apa. Ada yang baru sadar di semester 5 kalau mereka salah jurusan. Tapi sayangnya, pindah jurusan ribetnya minta ampun. Harus ngulang dari awal, bayar biaya tambahan, dan "buang" 2 tahun hidup.
Atau sebaliknya: lo udah jago banget di suatu bidang karena lo belajar otodidak sejak SMA. Tapi universitas tetap maksa lo ambil mata kuliah pengantar yang materinya udah lo kuasai. Buang-buang waktu.
2. Jadwal yang Nggak Kenal Kompromi
Kuliah biasanya jam 7 pagi sampai 4 sore, Senin sampai Jumat. Coba lo mahasiswa yang terpaksa kerja paruh waktu dari jam 6 sore sampai tengah malam. Atau lo mahasiswa yang punya anak dan harus ngurus bayi di pagi hari. Atau lo mahasiswa yang produktifnya cuma antara jam 10 malam sampai 3 pagi (karena entah kenapa lo lebih fokus saat dunia sepi).
Sistem klasik bilang: "Ya udah, kamu yang harus menyesuaikan diri."
Gak heran banyak mahasiswa non-tradisional (yang udah kerja, punya keluarga, atau punya kebutuhan khusus) merasa tersisihkan.
3. Biaya yang Gila-gilaan (dan Sering Gak Sebanding)
Di luar negeri, utang pendidikan mahasiswa udah jadi krisis nasional. Di Indonesia, UKT yang katanya "berkeadilan" kadang masih bikin jidat berkerut. Apalagi kalau lo kuliah di kampus swasta.
Belum lagi biaya tak terduga: transportasi, kost, buku, fotokopi, sumbangan ini itu, dan "biaya operasional" yang entah dari mana asalnya.
4. Masuknya Susah, Keluar Juga Susah
Universitas bagaikan klub eksklusif. Lo harus lulus tes masuk yang super kompetitif. Begitu lo masuk, lo harus mengikuti semua aturan main mereka. Kalau lo "nakal" (baca: tidak mengikuti arus), lo bisa di-DO. Dan kalau lo mau pindah ke universitas lain, biasanya kredit lo gak sepenuhnya diakui.
Ini bukan pendidikan. Ini sistem kurungan.
Ilustrasi: Kisah Rini
Rini adalah lulusan SMA yang pintar. IPK-nya 3,9. Tapi keluarganya miskin. Ayahnya buruh bangunan. Ibunya jual gorengan.
Rini keterima di universitas negeri ternama lewat jalur bidikmisi. Seneng banget. Tapi begitu masuk, dia kaget. Jadwal kuliahnya padat dari pagi sampai sore. Dia gak punya waktu buat kerja paruh waktu. UKT memang murah, tapi biaya hidup di kota besar mahal. Dia harus kos, beli buku, bayar transport, dan kadang ikut kegiatan yang "wajib" tapi berbayar.
Rini bertahan sampai semester 4. Tapi kemudian ibunya jatuh sakit. Rini harus pulang kampung dan merawat ibunya. Dia cuti satu semester. Pas mau kembali, dia diminta ngulang beberapa mata kuliah karena "kadaluarsa." Akhirnya, Rini drop out.
Apakah Rini bodoh? Tidak. Apakah Rini malas? Tidak. Rini hanyalah korban dari sistem yang gak fleksibel dan gak terbuka terhadap keragaman kondisi mahasiswa.
Universitas masa depan ingin mengakhiri cerita sedih seperti Rini.
Bagian 2: Lima Pilar Universitas Masa Depan
Apa sih yang membedakan universitas masa depan dengan universitas sekarang? Gue merangkumnya dalam lima pilar. Mari bedah satu per satu.
Pilar 1: Fleksibilitas Waktu dan Tempat (Tanpa Kompromi)
Ini yang paling kelihatan. Universitas masa depan sadar bahwa mahasiswa punya kehidupan di luar kampus. Mereka punya pekerjaan, keluarga, hobi, penyakit kronis, atau sekadar preferensi jam biologis yang berbeda.
Implementasinya:
· Semua materi kuliah tersedia secara asinkron. Lo bisa nonton rekaman kuliah kapan aja. Bukan cuma video biasa, tapi rekaman 3D interaktif di metaverse.
· Tenggat waktu yang fleksibel. Sistem adaptif akan ngasih lo deadline yang personal. Kalau lo lagi sakit atau lagi ada musibah, sistem bisa otomatis memperpanjang tenggat tanpa perlu ngurus surat dokter.
· Ujian kapan saja. Alih-alih UTS dan UAS serempak di minggu-minggu tertentu, lo bisa ambil ujian saat lo merasa siap. Tentu dengan sistem anti-curang yang canggih.
· Tidak ada jam malam untuk akses lab. Lab virtual dan perpustakaan digital buka 24/7. Lo mau praktikum kimia jam 2 pagi? Silakan. Cuma jangan bikin bom beneran.
Ilustrasi: Andi si Kuli Bangunan yang Jadi Sarjana
Andi bekerja sebagai kuli bangunan dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Badannya capek, tangannya kapalan. Tapi Andi punya mimpi: jadi sarjana teknik sipil.
Di universitas masa depan, Andi bisa kuliah tanpa harus berhenti kerja. Dia belajar dari jam 8 malam sampai jam 12 malam setiap hari. Dia nonton rekaman kuliah dengan kecepatan 1,5x (karena dia paham banget sama konstruksi bangunan dari pengalaman lapangan). Kapan dia butuh konsultasi? Ada asisten AI yang siap 24 jam. Untuk diskusi mendalam dengan dosen, dia bisa janjian di akhir pekan.
Empat tahun kemudian, Andi lulus. Dia bukan lagi kuli bangunan. Dia sekarang sarjana teknik sipil yang punya pengalaman lapangan yang gak kalah sama dosennya. Perusahaannya langsung ngelirik. Gaji Andi melonjak 5 kali lipat.
Universitas masa depan menyelamatkan Andi. Universitas masa sekarang mungkin bakal bilang, "Maaf, Andi. Kelas praktek kami cuma jam 10 pagi. Lo harus milih antara kerja atau kuliah."
Pilar 2: Kurikulum Modular dan Personal (Lo yang Rancang Sendiri)
Dulu, kurikulum itu kayak set menu di restoran prasmanan: "Ini nih pilihan kita. Lo ambil atau enggak."
Universitas masa depan mengubahnya jadi a la carte, bahkan build-your-own-buffet. Lo bisa memilih mata kuliah dari berbagai disiplin ilmu, dari berbagai universitas, bahkan dari berbagai negara. Dan lo bisa menyusunnya jadi "gelar" yang unik sesuai minat dan karier lo.
Implementasinya:
· Micro-credentials dan nanodegree. Gak perlu nunggu 4 tahun buat dapetin segelar. Lo bisa ambil sertifikat untuk keahlian spesifik (misal: "Data Analysis with Python" atau "Digital Marketing for Small Business") dalam waktu 3-6 bulan. Setiap micro-credentials punya bobot kredit yang bisa dikumpulkan.
· Stackable degrees. Kumpulin micro-credentials secukupnya, lo bisa "tukar" jadi gelar associate, bachelor, atau master. Kayak ngumpulin poin di aplikasi kopi. Dapet 10 poin, gratis satu gelar. (Oke, gak semudah itu, tapi prinsipnya mirip).
· Prior learning assessment. Lo udah punya pengalaman kerja 5 tahun di bidang IT? Lo bisa "minta uji kompetensi." Kalau lulus, lo gak perlu ambil mata kuliah pengantar programming. Lo langsung loncat ke level advanced. Ini menghemat waktu dan biaya.
Ilustrasi: Mega si Desainer Grafis OTOdidak
Mega gak pernah kuliah desain grafis formal. Tapi dia udah 3 tahun kerja di agensi iklan, dan portofolionya bagus banget. Suatu hari, Mega pengen naik jabatan jadi art director. Syaratnya: punya gelar S1.
Di universitas masa depan, Mega gak perlu ngulang dari awal. Dia bisa ambil Prior Learning Assessment. AI dan dosen akan menilai portofolio dan pengetahuannya. Hasilnya: Mega mendapat kredit setara 50 SKS (setara 1,5 tahun kuliah).
Sisa 2,5 tahun, Mega bisa ambil mata kuliah yang beneran dia butuhkan: Manajemen Tim Kreatif, Psikologi Desain, Legal dalam Iklan, dan tentu saja skripsi (proyek akhir). Mega sambil tetap kerja. Dia lulus dalam 2 tahun. Gelarnya: Sarjana Desain dengan konsentrasi Manajemen Kreatif.
Tanpa sistem prior learning assessment, Mega mungkin harus kuliah 4 tahun penuh, belajar hal yang udah dia kuasai, dan kehilangan momentum kariernya. Universitas masa depan menghargai belajar seumur hidup, bukan cuma belajar di kelas.
Pilar 3: Keterbukaan Akses (Dari Mana Saja, Siapa Saja)
Universitas masa depan tidak memandang latar belakang lo. Lo boleh dari Papua, dari NTT, dari pulau terpencil. Lo boleh miskin, kaya, cacat, normal, tua, muda. Selama lo punya akses internet (ini PR besar, tapi asumsinya nanti infrastruktur sudah membaik), lo bisa belajar.
Implementasinya:
· Penerimaan tanpa batas kuota. Karena kuliah bisa online dan adaptif, kapasitas kelas bukan lagi masalah. Satu mata kuliah bisa diikuti 100.000 mahasiswa, masing-masing dengan pacing sendiri.
· Biaya berdasarkan kemampuan (pay-as-you-can). Sistem AI bisa menganalisis kondisi ekonomi lo (dengan data yang lo berikan secara sukarela) dan menentukan biaya yang sesuai. Atau model "bayar setelah lulus dan bekerja" (income share agreement) makin umum.
· Aksesibilitas universal. Mahasiswa tunanetra bisa "mendengar" grafik 3D lewat suara. Mahasiswa tunarungu bisa membaca teks real-time dari ucapan dosen. Mahasiswa dengan disabilitas motorik bisa mengendalikan avatar dengan gerakan mata atau suara.
· Dukungan bahasa. Sistem AI bisa menerjemahkan kuliah ke bahasa daerah atau bahasa isyarat secara real-time.
Ilustrasi: Kelas dengan Seribu Wajah
Suatu hari, di kelas "Pengantar Kecerdasan Buatan" versi Universitas Masa Depan, ada:
· Seorang ibu rumah tangga asal Makassar yang baru punya waktu belajar jam 10 malam setelah anak-anaknya tidur.
· Seorang pensiunan guru berusia 67 tahun yang pengen tahu kenapa TikTok bisa seseru itu.
· Seorang remaja difabel di panti asuhan yang cuma punya akses laptop pinjaman dengan layar sentuh.
· Seorang eksekutif muda di Jakarta yang lagi jenuh kerja dan pengen belajar AI buat ngelamar posisi baru.
· Seorang mahasiswa full-time di Jerman yang lagi ambil program double degree.
Mereka semua belajar di kelas yang sama, tapi dengan pengalaman berbeda. AI menyesuaikan kecepatan, gaya, dan kedalaman materi untuk masing-masing. Mereka tidak saling mengganggu. Tapi mereka bisa diskusi di forum bersama, saling membantu, dan belajar dari perspektif yang sangat beragam.
Inilah keterbukaan yang sesungguhnya: bukan cuma "gratis" atau "murah", tapi "mengakomodasi perbedaan."
Pilar 4: Kolaborasi Lintas Batas (Gak Cuma Kampus Sendiri)
Universitas masa depan gak sok eksklusif. Mereka sadar bahwa pengetahuan itu tersebar di mana-mana, bukan cuma di gedung kampus mereka.
Implementasinya:
· Credit transfer otomatis. Lo ambil mata kuliah AI di Universitas A, mata kuliah etika di Universitas B, dan proyek praktik di perusahaan C. Semua kredit diakui secara otomatis dalam sistem terintegrasi.
· Dosen tamu global. Satu mata kuliah bisa diajar oleh 5 dosen dari 3 negara berbeda, masing-masing ahli di sub-bidangnya. Atau bahkan oleh profesional industri yang gak punya gelar S3 tapi punya pengalaman 20 tahun.
· Proyek kolaborasi lintas universitas. Lo bisa kerja kelompok dengan mahasiswa dari Brazil, Kenya, dan Norwegia untuk memecahkan masalah global (misal: desain sistem irigasi murah untuk daerah kering). Ini bukan cuma belajar, tapi juga membangun jaringan profesional internasional.
Ilustrasi: Tim Virtual Penyelamat Lingkungan
Seorang mahasiswa Indonesia, Putri, bergabung dalam proyek "Ocean Cleanup Challenge". Timnya terdiri dari:
· Carlos (Brazil) - ahli material.
· Aisha (Mesir) - ahli hukum maritim.
· Wei (China) - ahli robotika.
· Kofi (Ghana) - ahli pengelolaan sampah.
Mereka gak pernah ketemu fisik. Tapi setiap minggu mereka "bertemu" di ruang virtual yang menyerupai pantai yang tercemar. Mereka mendesain robot pembersih pantai, menganalisis regulasi di masing-masing negara, dan membuat proposal pendanaan. Dosen pembimbingnya dari 3 universitas berbeda muncul secara bergiliran.
Di akhir proyek, desain mereka menang dan diadopsi oleh NGO internasional. Putri dapat tawaran kerja di perusahaan teknologi lingkungan di Belanda, sebelum dia bahkan resmi lulus.
Coba bayangkan: kolaborasi seperti ini mustahil terjadi di universitas tradisional yang masih sibuk mengurus tanda tangan dan stempel antar fakultas.
Pilar 5: Belajar Seumur Hidup (Bukan 4 Tahun Selesai)
Universitas masa depan mengakui bahwa belajar gak berhenti di wisuda. Dunia berubah cepat. Keahlian lo hari ini mungkin udah usang 5 tahun lagi.
Implementasinya:
· Alumni for life. Lo lulus, tapi lo tetap punya akses ke materi kuliah terbaru, forum diskusi, dan bahkan bimbingan karir. Gak perlu daftar ulang atau bayar lagi (atau bayar sedikit).
· Reskilling dan upskilling on demand. Lo butuh belajar manajemen proyek karena naik jabatan? Lo bisa langsung ambil modul 2 minggu tanpa harus ambil seluruh program MBA.
· Digital portfolio yang hidup. Bukan cuma transkrip nilai yang dicetak sekali. Tapi portofolio digital yang terus lo update dengan sertifikat baru, proyek, dan rekomendasi dari atasan. Ini yang akan dilihat perusahaan, bukan cuma ijazah.
Ilustrasi: Om Budi, Pengusaha Senior yang Jadi Mahasiswa Lagi
Om Budi umur 55 tahun. Dia punya toko bangunan yang sukses. Tapi sekarang toko-toko online makin marak. Om Budi gak paham cara jualan di internet. Anak-anaknya udah pada kerja di luar kota.
Om Budi "balik kuliah" di Universitas Masa Depan. Dia ambil micro-credentials "Digital Marketing for Traditional Business" yang cuma 8 minggu. Belajarnya dari HP. Banyak video pendek, kuis interaktif, dan sesi tanya jawab dengan mentor (asisten AI). Om Budi juga bisa diskusi di forum dengan pengusaha lain yang nasibnya sama.
8 minggu kemudian, Om Budi bisa bikin toko online sendiri, pake Google Ads, dan ngatur stok lewat aplikasi. Omsetnya naik 40%. Om Budi bahagia. Universitas Masa Depan bahagia karena berhasil "mencegah" seorang pengusaha jadi korban perubahan zaman.
Bagian 3: Tapi... (Selalu Ada Tapi, Kan?)
Gue gak mau jadi sales universitas masa depan yang cuma ngejual mimpi indah. Ada beberapa "harga" yang harus dibayar dan tantangan yang harus dihadapi.
1. Disiplin diri jadi segalanya
Kalau universitas kasih lo kebebasan total, lo juga harus punya tanggung jawab total. Di sistem klasik, lo dipaksa datang ke kelas jam 7 pagi. Di universitas masa depan, gak ada yang maksa. Kalau lo males, lo bisa tunda terus sampai akhirnya semester lewat dan lo gak lulus-lulus.
Ini masalah besar bagi mahasiswa yang belum punya self-regulated learning (kemampuan mengatur diri sendiri dalam belajar). Banyak yang gagal di pendidikan daring justru karena masalah disiplin, bukan karena materi sulit.
Solusinya: Universitas masa depan perlu punya "sistem pendorong" yang cerdas. Misalnya:
· AI pembimbing yang secara proaktif mengingatkan dan memberi motivasi.
· Grup belajar virtual dengan accountability partner.
· Konsekuensi ringan tapi bermakna kalau lo sering menunda (misal: lo harus nulis refleksi "kenapa saya menunda?" sebelum bisa lanjut).
2. Kesenjangan digital makin lebar
Universitas masa depan sangat bergantung pada akses internet dan perangkat yang memadai. Mahasiswa di kota besar yang punya laptop canggih dan WiFi 100 Mbps jelas lebih diuntungkan daripada mahasiswa di desa yang cuma punya HP jadul dan sinyal 3G yang suka hilang.
Ini ironis: universitas yang mengaku "terbuka" malah bisa menutup pintu bagi mereka yang paling membutuhkan.
Solusinya:
· Kampus perlu menyediakan "pusat akses" di berbagai daerah terpencil (seperti pos internet desa dengan perangkat VR sewaan).
· Subsidi perangkat dan paket data bagi mahasiswa kurang mampu.
· Mengembangkan platform yang bisa diakses dengan bandwidth rendah dan perangkat sederhana.
3. Hilangnya pengalaman kampus yang utuh
Kuliah itu bukan cuma belajar. Tapi juga: kenalan sama teman baru, diskusi tengah malam di kantin, jatuh cinta di perpustakaan, demo bersama saat ada kebijakan kontroversial, atau sekadar nongkrong gak jelas di tangga fakultas.
Universitas masa depan yang serba virtual dan fleksibel berisiko menghilangkan pengalaman-pengalaman ini. Mahasiswa bisa jadi pintar secara akademik, tapi miskin secara sosial dan emosional.
Solusinya:
· Hibrida: tetap ada "kampus fisik" sebagai pusat komunitas, tempat orang bisa bertemu, berdiskusi, dan bersosialisasi. Tapi kehadiran di sana bersifat sukarela dan fleksibel.
· Event-event sosial yang diadakan secara berkala, baik virtual maupun fisik: pesta kostum di metaverse, retret akhir pekan di dunia nyata, kompetisi olahraga campuran.
4. Sertifikasi dan legitimasi
Pertanyaan besarnya: Apakah gelar dari universitas masa depan diakui oleh perusahaan? Atau bakal dianggap "ijazah online abal-abal"?
Ini masalah kepercayaan. Selama masih ada stigma bahwa pendidikan daring (apalagi yang super fleksibel) itu "kurang" dibanding pendidikan tatap muka, lulusan universitas masa depan akan kesulitan bersaing.
Solusinya:
· Transparansi: setiap micro-credentials harus jelas kompetensi yang dikuasai, bukan cuma jumlah jam belajar.
· Ujian kompetensi independen: seperti ujian profesi atau sertifikasi industri. Perusahaan bisa lebih percaya pada hasil ujian daripada asal universitas.
· Perubahan budaya: butuh waktu dan edukasi. Perusahaan harus belajar bahwa fleksibilitas bukan berarti kualitas rendah.
Ilustrasi Penutup: Sekolah Tanpa Tembok
Tahun 2045, seorang anak SMA bernama Laras lagi sibuk milih "jalur belajar" untuk 5 tahun ke depan. Di HP-nya, dia buka aplikasi Universe—platform agregator universitas masa depan.
Laras gak harus milih satu universitas. Dia bisa "meracik" paket belajarnya sendiri:
· Matematika Diskret dari MIT Virtual Campus.
· Pengantar Ekonomi dari Universitas Indonesia Metaverse.
· Dasar Pemrograman dari coding bootcamp terkenal.
· Project Based Learning: bikin aplikasi untuk UKM lokal, dibimbing oleh mentor dari perusahaan rintisan.
· Magang di startup fintech selama 6 bulan (dapat kredit 20 SKS).
Semua itu terintegrasi dalam satu dashboard. Nilai, sertifikat, dan portofolio Laras tersimpan dalam digital credential wallet yang bisa dia tunjukkan ke calon pemberi kerja kapan saja.
Kapan Laras belajar? Terserah dia. Pagi, siang, malam. Yang penting progressnya sesuai target. Ada AI mentor yang ngingetin kalau dia mulai males. Ada grup diskusi virtual yang kocak abis—mereka suka hangout di kafe virtual sambil ngerjain tugas.
Apakah Laras pernah ke kampus fisik? Iya, sesekali. Untuk acara tahunan "Festival Ilmu Pengetahuan" atau untuk ketemuan sama teman-teman grup diskusinya. Tapi dia gak merasa "terikat" sama satu kampus. Dunianya lebih luas.
Dan yang paling penting: ibu Laras—yang dulu bernama Rini, yang harus drop out dari universitas 25 tahun lalu karena gak fleksibel—sekarang bisa tersenyum. Anaknya tidak akan mengalami penderitaan yang sama.
Penutup: Saatnya Tembok Itu Runtuh
Universitas masa depan bukanlah utopia. Dia akan punya masalah, kekacauan, dan ketidakpastian. Tapi setidaknya, dia bergerak ke arah yang benar: lebih manusiawi, lebih menghargai keberagaman, dan lebih relevan dengan dunia yang berubah cepat.
Kita gak bisa terus-menerus mempertahankan sistem universitas abad ke-19 untuk menghadapi abad ke-21. Dunia sudah berubah. Teknologi sudah berubah. Mahasiswa sudah berubah. Maka, universitas juga harus berubah.
Fleksibel. Terbuka. Inklusif. Itu bukan cuma kata-kata manis. Itu adalah tuntutan zaman.
Dan lo, yang membaca artikel ini—entah lo mahasiswa, dosen, calon mahasiswa, atau orang tua yang lagi mikirin masa depan anak—punya peran. Jangan cuma jadi penonton. Tuntut perubahan. Cari universitas yang sudah mulai bergerak ke arah sana. Atau kalau lo punya power, bangun universitas versi lo sendiri.
Karena pendidikan itu terlalu penting untuk diserahkan pada birokrasi yang lamban dan struktur yang kaku.
Universitas masa depan dimulai dari keberanian kita untuk bermimpi—dan bertindak—sekarang. ✨
Catatan: Artikel ini ditulis pada tahun 2025. Mungkin di tahun 2030, 2040, atau 2050, beberapa prediksi di sini akan terdengar lucu dan naif. Tapi semangatnya tetap sama: pendidikan harus berpihak pada manusia, bukan sebaliknya. Peace! ✌️