Kalau kita jujur, dunia nyata jarang sekali bekerja berdasarkan satu
disiplin ilmu saja. Masalah sosial tidak hanya soal sosiologi, persoalan
lingkungan tidak cuma urusan biologi, dan teknologi pendidikan tidak berdiri
sendiri tanpa pedagogi. Namun anehnya, di ruang kelas perguruan tinggi, ilmu
sering diajarkan secara terpisah-pisah, seolah
setiap disiplin hidup di dunianya sendiri.
Di sinilah konsep kelas interdisipliner
menjadi relevan. Kelas interdisipliner berusaha menjembatani sekat-sekat
keilmuan dengan cara menyatukan dua atau lebih bidang pengetahuan dalam satu
pengalaman belajar. Artikel ini akan membahas apa itu kelas interdisipliner,
mengapa penting, bagaimana penerapannya di perguruan tinggi, serta tantangan
dan peluangnya—tentu dengan gaya santai, nonformal, dan ilustrasi yang dekat
dengan realitas kampus.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing |
Apa Itu Kelas
Interdisipliner?
Secara sederhana, kelas interdisipliner
adalah kelas yang dirancang dengan melibatkan lebih dari satu disiplin ilmu
untuk membahas satu tema, masalah, atau proyek tertentu. Fokusnya bukan pada
“mata kuliah A” atau “mata kuliah B”, tetapi pada masalah
nyata yang memang membutuhkan berbagai sudut pandang.
Ilustrasi gampangnya begini:
Masalah sampah plastik tidak bisa diselesaikan hanya dengan ilmu lingkungan.
Ia juga membutuhkan perspektif ekonomi, komunikasi, kebijakan publik, bahkan
desain.
Dalam kelas interdisipliner, mahasiswa diajak melihat satu persoalan dari
berbagai kacamata keilmuan, lalu menyatukannya menjadi solusi yang lebih utuh.
Kenapa Kelas
Interdisipliner Semakin Penting?
Ada beberapa alasan kenapa kelas interdisipliner semakin relevan, terutama
di era Kurikulum Merdeka Belajar dan dunia kerja yang terus berubah.
1. Masalah Dunia Nyata Bersifat Kompleks
Masalah di masyarakat jarang bersifat tunggal. Kemiskinan, misalnya, bukan
hanya soal ekonomi, tetapi juga pendidikan, budaya, kebijakan, dan psikologi.
Ilustrasi:
Mahasiswa ekonomi mungkin bisa menghitung angka kemiskinan, tetapi tanpa
memahami konteks sosial dan budaya, solusi yang ditawarkan bisa meleset.
2. Dunia Kerja Membutuhkan Kolaborasi
Di dunia kerja, lulusan tidak bekerja sendirian dengan orang-orang dari
jurusan yang sama. Mereka harus berkolaborasi lintas bidang.
Kelas interdisipliner melatih mahasiswa untuk:
·
Berkomunikasi dengan bahasa
keilmuan berbeda
·
Menghargai perspektif lain
·
Bekerja dalam tim heterogen
3. Menghindari Cara Pikir Sempit
Belajar satu disiplin saja berisiko membuat mahasiswa berpikir sempit. Kelas
interdisipliner membantu mahasiswa melihat bahwa satu masalah bisa punya banyak
solusi, tergantung sudut pandangnya.
Bentuk-Bentuk Kelas Interdisipliner
Kelas interdisipliner tidak selalu harus rumit. Ada banyak bentuk yang bisa
disesuaikan dengan konteks kampus.
1. Team Teaching
Dua atau lebih dosen dari disiplin berbeda mengajar satu kelas secara
bersama-sama.
Ilustrasi:
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris bekerja sama dengan dosen Teknologi
Pendidikan untuk mengajar mata kuliah “Pengembangan Media Pembelajaran
Digital”.
Mahasiswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga desain media dan
teknologi.
2. Proyek Bersama Lintas Prodi
Mahasiswa dari prodi berbeda mengerjakan satu proyek yang sama.
Ilustrasi:
Mahasiswa komunikasi, informatika, dan pendidikan bekerja sama membuat
kampanye literasi digital untuk masyarakat.
3. Mata Kuliah Tematik
Alih-alih berbasis disiplin, mata kuliah dirancang berbasis tema.
Contoh tema:
·
Perubahan iklim
·
Literasi digital
·
Kesehatan mental
Tema ini kemudian dibahas dari berbagai perspektif keilmuan.
Peran Dosen dalam Kelas
Interdisipliner
Dalam kelas interdisipliner, peran dosen juga mengalami pergeseran.
Dari Ahli Tunggal ke Mitra Kolaborasi
Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas ilmu di kelas. Ia menjadi:
·
Mitra diskusi
·
Fasilitator pembelajaran
·
Penghubung antar-disiplin
Ilustrasi:
Dosen sosiologi tidak harus menguasai semua aspek teknologi, tetapi cukup
membuka ruang dialog dengan dosen informatika dan mahasiswa.
Belajar Bersama Mahasiswa
Kelas interdisipliner sering kali membuat dosen juga belajar hal baru. Ini
bukan kelemahan, justru kekuatan.
Dampak Positif bagi Mahasiswa
Mahasiswa yang mengikuti kelas interdisipliner biasanya merasakan beberapa
manfaat berikut:
·
Lebih kritis dan reflektif
·
Lebih siap bekerja dalam
tim
·
Lebih adaptif terhadap
perubahan
·
Lebih percaya diri
menyampaikan ide lintas disiplin
Ilustrasi:
Mahasiswa pendidikan yang terbiasa berdiskusi dengan mahasiswa IT akan lebih
percaya diri saat harus bekerja dengan tim teknologi di dunia kerja nanti.
Tantangan dalam
Menerapkan Kelas Interdisipliner
Meski terdengar ideal, kelas interdisipliner tidak bebas masalah.
Beberapa tantangan yang sering muncul:
·
Perbedaan bahasa keilmuan
·
Ego disiplin
·
Kesulitan sinkronisasi
jadwal dosen
·
Sistem kurikulum yang masih
kaku
Ilustrasi:
Dosen merasa khawatir “wilayah keilmuannya” tereduksi atau tidak cukup
terwakili.
Tantangan ini wajar dan perlu dikelola dengan komunikasi terbuka.
Strategi Agar Kelas
Interdisipliner Berjalan Efektif
Agar kelas interdisipliner tidak sekadar jargon, ada beberapa strategi yang
bisa diterapkan:
1. Tentukan tema bersama sejak awal
2. Samakan persepsi antar dosen
3. Gunakan proyek sebagai inti pembelajaran
4. Buat penilaian yang adil dan transparan
5. Beri ruang refleksi bagi mahasiswa
Ilustrasi:
Mahasiswa diminta menulis refleksi tentang apa yang mereka pelajari dari
disiplin lain, bukan hanya dari bidangnya sendiri.
Kelas Interdisipliner
dalam Konteks Merdeka Belajar
Kurikulum Merdeka Belajar memberi ruang luas bagi kelas interdisipliner.
Program seperti proyek sosial, riset, dan pengabdian masyarakat sangat cocok
menggunakan pendekatan ini.
Dengan kelas interdisipliner, kampus bisa benar-benar menjadi ruang belajar
yang relevan dengan kehidupan nyata.
Penutup: Menyatukan,
Bukan Mencampuradukkan
Kelas interdisipliner bukan tentang mencampuradukkan ilmu secara
asal-asalan. Ia tentang menyatukan kekuatan berbagai disiplin
untuk memahami dan menyelesaikan masalah secara lebih utuh.
Di tengah kompleksitas dunia saat ini, perguruan tinggi dituntut melahirkan
lulusan yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga mampu bekerja lintas
disiplin. Kelas interdisipliner adalah salah satu jalan menuju ke sana.
Mungkin memang tidak mudah. Tapi justru di ruang perjumpaan antar-ilmu
itulah, pembelajaran menjadi lebih hidup, relevan, dan bermakna—baik bagi
mahasiswa maupun dosen.
